percintaan adalah proses perbudakan rasa yang membawa kepada kebebasan tiaptiap manusia. Penyerahan rasa yang dilakukan merupakan aktualisasi jiwa yang ingin saling memberi. Bahasa cinta adalah bahasa universal yang tidak dimengerti hanya dengan sekelumit kisah. Dia akan terus mengalir bersama rasa. Akan tetapi ketika cinta mulai terbahasakan oleh lidah, seiring dengan itu maka dia mulai memakai topeng kebohongan dan kemudian musnahlah dia
sepeda (iip pasoloran)
SEPEDA
Setiap anak yang sudah melewati masa balitanya pastilah sangat menginginkan untuk dibelikan sebuah sepeda, dan itupun terjadi pada Iman. Iman adalah seorang anak yang sedikit berbeda dengan anak yang lainnya. Dia selalu memanfaatkan sesuatu tidak sesuai dengan fungsinya. Seperti ketika dia dibelikan sebuah baju superman oleh ibunya, dia tidak langsung mengenakan layaknya sepotong baju tapi justru menjadikannya sebuah celana. Saat itu ibunya menegur dan berusaha mengajarkan bahwa apa yang telah dilakukannya adalah salah. Tapi dengan entengnya dia bilang bahwa itu juga bisa jadi celana karena memiliki dua lubang untuk kaki dan satu lubang untuk kencing lalu sayapnya bisa jadi ekor terbang. Sejak saat itu, orang tuanya tidak akan menghadiahkan sesuatu kalau bukan dia sendiri yang memintanya.
Suatu hari saat keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga, Iman merengek untuk dibelikan sebuah sepeda beroda lima. Bapaknya yang sedang membaca koran, berhenti dan memberi Iman perhatian. Dia lalu bertanya kenapa Iman ingin sebuah sepeda beroda lima.
“Tadi saya melihat Dodi mendapat hadiah sepeda beroda empat dari ibunya, jadi sekarang bapak beli sepeda yang rodanya lebih banyak daripada sepeda milik Dodi!”
Bapaknya tersenyum dan menaruh koran di tangannya ke atas meja.
“Tapi pemerintah belum membuat sepeda yang beroda lima nak. Jadi sepeda untuk anak-anak seperti Iman cocoknya sepeda beroda empat.” Mencoba untuk merayu Iman.
Iman yang terus menarik-narik kaki bapaknya, menunjukkan wajah yang bingung lalu melepas pegangannya. Dia lalu berkacak pinggang sambil melepaskan nafasnya.
“Aneh, kenapa presiden tidak membuat sepeda beroda lima saja biar Iman bisa jalan-jalan?”
“Bukan presiden tapi pabrik pembuat sepeda nak!” mencoba memberikan Iman pengertian.
Iman kini bertambah bingung dengan bapaknya. Awalnya yang membuat sepeda adalah pemerintah, tetapi kini berubah menjadi pabrik. Dia kembali memegangi kaki bapaknya dan kini menariknya lebih keras.
“Pokoknya aku mau sepeda yang rodanya lima, titik!”
“Aduh Iman, sepeda yang rodanya lima sudah habis, jadi semua toko penjual sepeda tutup.”
Sepertinya sang bapak sudah mulai merasa terganggu dengan rengekan anaknya yang satu ini. Sampai akhirnya sang ibu angkat bicara.
“Iman, kalau kamu ingin sepeda yang rodanya lima, jangan menangis! Kan tidak baik kalau anak kecil suka menangis.”
Sejenak Iman menghentikan rengekannya dan berbalik kearah ibunya seraya menampakkan dahinya yang mengerut.
“Siapa yang mau menangis, kan Iman hanya mau sepeda yang rodanya lima. Ibu jangan sembarangan menuduh orang, ntar berdosa dan masuk neraka!”
“Kenapa Iman ingin sepeda yang rodanya lima?” tanya sang ibu dengan nada halus.
“Kan sepeda Dodi rodanya ada empat, tiga di belakang dan satu di depan. Itu tidak adil! Bapak dan ibu sering mengajarkan Iman untuk harus adil, lalu kenapa waktu Iman mau sepeda yang adil, bapak tidak mau membelikan Iman?
Iman mencoba meyakinkan kedua orang tuanya agar keinginannya dapat terpenuhi. Kedua orang tuanya hanya berpandangan dan bingung untuk memberikan penjelasan yang bisa merubah pendirian anaknya ini. Iman memang termasuk seorang anak yang selalu ingin mempertanyakan sesuatu dan berbeda dari teman-temannya yang lain.
“Memangnya kalau Iman sudah punya sepeda yang rodanya lima, mau diapakan?” Tanya sang bapak.
Iman sejenak diam, lalu tangannya diarahkan ke kepala meniru gaya orang yang sedang berfikir. Sambil menghela nafas panjang, dia memperlihatkan wajah yang serius seolah-olah pertanyaan tadi akan dia jawab dengan jawaban yang logis. Tiba-tiba dia menurunkan tangannya dan lebih merapat ke kaki bapaknya. Bapaknya yang sejak tadi menunggu jawaban dari anaknya, menyambutnya dengan dua tangan lalu mendudukkan Iman di atas paha kanannya.
“Iya, kalau Iman sudah punya sepeda itu, trus mau diapain?” tegas sang bapak.
Iman lalu memperbaiki letak duduknya. Tidak lama kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum kepada bapak dan ibunya.
“Sepedanya untuk di kendarai. masa sepeda untuk dimakan.” jawab Iman.
Iman lalu memandang kedua orang tuanya, dia juga bingung melihat orang tuanya yang tampak bingung bercampur heran mendengar jawaban darinya. Dalam hatinya berkata kalau permintaannya itu sangat sederhana dan merasa kalau orang tuanya mampu membelikan sebuah untuknya.
“Bagaimana, apa Iman dapat hadiah sepeda yang rodanya lima?” kembali Iman merengek.
“Iman, sepeda yang rodanya lima itu tidak ada, yang ada hanya roda dua untuk orang dewasa dan beroda tiga untuk anak-anak seperti Iman.” Terang ibunya.
Iman yang sejak tadi duduk di atas paha ayahnya, tiba-tiba melompat turun dan berlari keluar rumah. Tapi dia kembali lagi dan mendongakkan kepalanya di kusen pintu rumah.
“Kalau sepeda yang rodanya lima itu belum ada, ya sudah. Biar Iman ke rumah Dodi dulu dan bilang kalau sepeda itu belum ada.”
Iman lalu berlalu meninggalkan rumah dan berlari kearah rumah Dodi, tampak wajahnya riang. Sementara kedua orang tuanya masih menyimpan banyak pertanyaan di benak mereka.
…………………
Makassar, 170808
iip pasoloran
ruang satu
ruang dua
sebuah ruang perkenalan awal sebelum persenggamaan jiwa dan persepsi menjadi sebuah sketsa hidup yang menggemaskan
ruang tiga
ajari aku tentang cara meraba langkahmu sambil membingkai jejak sebagai titipan untuk masa depan
ruang empat
kenalkan sosokmu di altar langit hingga biasnya menerangi bumiku
ruang lima
tentang cintaku padamu yang kemarin ku tambatkan di ranting-ranting pepohon.
Today, there have been 11 visitors (15 hits) on this page!
Terkadang kita harus mengakhiri sesuatu di tempat dimana kita memulainya. Karena sepertinya sebuah eksistensi kemanusiaan harus dipertanyakan kembali, apakah betul kita ada dan bergerak ditiap siang dan malam.
Ruang-ruang ini semakin sempit saja, karena sebanyak apapun kita membuat opini tentang ruang, maka secara tidak sadar kita sudah berubah menjadi angkuh dan membatasi ruang yang kita pahami. Lalu apalagi yang mesti dipertahankan, jika pada akhirnya kita sendiri yang menciptakan batas ruang dan waktu itu dan kemudian menjelma menjadi......
This website was created for free with Own-Free-Website.com. Would you also like to have your own website?