percintaan adalah proses perbudakan rasa yang membawa kepada kebebasan tiaptiap manusia. Penyerahan rasa yang dilakukan merupakan aktualisasi jiwa yang ingin saling memberi. Bahasa cinta adalah bahasa universal yang tidak dimengerti hanya dengan sekelumit kisah. Dia akan terus mengalir bersama rasa. Akan tetapi ketika cinta mulai terbahasakan oleh lidah, seiring dengan itu maka dia mulai memakai topeng kebohongan dan kemudian musnahlah dia
Lukisan waktu (mamat mariamang)
LUKISAN WAKTU
Oleh : Mamat Mariamang
Tak pernah sedikitpun aku pernah membayangkan menginjak kota ini. Kota yang tidak pernah masuk dalam hitunganku sebagai laki-laki yang doyanberpetualangan dari satu daerah ke daerah lainnya, menghabiskan hari dari satu kampung ke kampung lainnya hanya untuk mencari kepuasan bathin tanpa pernah menetap lama atau mungkin selamanya. Sering kali aku berpikir, untuk apa semua ini kulakukan. Bukankah aku tidak mempunyai sanak keluarga yang bertebaran di mana-mana Hanya semangat yang membuatku untuk selalu mencari, menikmati petualangan. Kadang aku menginap dari satu mesjidke mesjid lainnya atau kalau nasib lagi baik, biasanya aku dipanggil numpang di sebuah rumah penduduk di daerah yang kulalui.
Debu-debu beterbangan di aspal yang sudah rusak sana-sini, kuayunkan kaki dengan gontai menyusuri jalan-jalan setapak. Sebuah tas butut yang selalu berada dipundakku setia menemanikuseperti juga dengan sepatu yang sudah menganga depannya seakan-akan dia ingin berbisik bahwasanya dia telah letih dan ingin istirahat, mungkin tuk selama-lamanya. Peluh mengucur di wajahku, maklum udara di kota ini terasa panas apalagi di musim kemarau seperti sekarang ini.
Jalan yang kulalui berjejeran warung menjajakan berbagai makanan dan minuman. Dari warung kaki lima hingga warung makanan yang diperuntukkan buat kalangan menengah ke atas, dari desain yang bercorak tradisional hingga bercorak modern bahkan ada yang mengkombinasikan keduanya untuk lebih menciptakan suasana dan tatanan yang berbeda. Kulayangkan pandanganku kesekeliling, tampak sebahagian warung dijejali pengunjung.” Ramai sekali kelihatannya !, apalagi sekarang memang sudah waktunya makan siang. Para karyawan, sopir, pelajar dan lainnya, ada yang berpasangan, rombongan, dan ada yang sendiri masuk ke warung sesuai dengan selera mereka. “
Kuhentikan langkahku tepat di bawah sebuah halte, tidak jauh dari warung yang bercat putih yang kelihatannya sepi dibanding dengan warung lainnya. Peluh masih menetes di wajahku. Aku masih berdiri mematung di situ. Kurogoh kantong celanaku yang belel. Selembar uang lima ratus yang sudah kusam ternyata masih tersisa. Uang ini pemberian seorang sopiryang baik hati sewaktu aku membantunya mencari penumpang. Dia juga yang membawaku kemari walau hanya bergantungan di pintu busnya. Kupandangi uang tersebut, semoga saja cukup untuk membeli makanan buat pengganjal perut.
Perlahan kuayunkan kaki menuju warung yang bercat putih tersebut. Tampak seorang lelaki setengah baya sibuk mengusir lalat yang berkerumung dijualannya.
“ Permisi, Pak !”
Ujarku pada lelaki setengah baya itu.
“ Permisi, pak !”
Ujarku sekali lagi dengan suara agak keras sedikit.
Kulihat dia hanya diam saja, seakan akan aku tidak ada dihadapannya. Kucoba menegurnya kembali, mungkin saja dia tidak mendengar ucapanku barusan.
Sambil melemparkan air yang ada dalam gelas itu ke wajahku
“ Sudah tahu warung sepi, tak ada pembeli, eeeee……..hhhhh, kemari lagi meminta-minta.”
“ Ayo !, sana pergi dari warungku, buat sial saja.” Gerutunya.”
Aku hanya diam terpaku sembari melap air yang bercucuran di wajahku dengan jemariku. Perlahan kubalikkan tubuhku, meninggalkan warung tersebut menyusuri jalan di bawah sengatan matahari. Orang-orang yang lewat disekitar warung itu melongoh dan tersenyum sinis memandangku.
Bunyi kendaraan terus menderu silih berganti, mengeluaran asapnya disana-sini bercampur dengan debu-debu jalanan. Sebuah potert kota yang telah maju, bangga dengan polusi sambil membusungkan dadanya yang gunduldiantara gedung-gedung bertingkat.
Makassar telah diselimuti malam, di bawah siraman neon-neon yang menggelantung dan aroma pantai losari yang melayang bersama angin serta debur ombak yang silih berganti seqakan terus memompa semangatku untuk tegar menjalani hidup.
Di tanggul pantai losari yang memanjang cukup panjang aku duduk dengan tatapan hampa. Kakiku menjuntai menyentuh butiran-butiran pasir yang basah. Angin malam sibuk mempermainkan anak-anak rambutku. Kuarahkan pandanganku lurus ke depan berusaha menerobos laut yang terhampar di hadapanku. Kepting-kepiting kecil sibuk berlari kesanakemari di antara karang, ada yang membuat lubang di pasir, ada yang berlari menyambut ombak yang terhempas di bibir pantai, ada juga yang ngumpet. Mungkin dia tengah mengamatiku atau mereka sedang mengintai lawan jenisnya. “ Entahlah !, aku juga tidak mengerti tentang bahasa binatang .”
Hari-hari memang terasa sulit kulalui, penuh denga kerikil-kerikil tajam. Sejak lahir tak pernah pun kuketahui siapa yang telah menyebabkanku ada dimuka bumi ini, mungkin mereka malu dengan kelahiranku yang tidak wajar atau sebab lainnya yang aku sendiri tidak pernah mengetahuinya.Yang aku tahu bahwasanya aku di besarkan di sebuah panti asuhan di kota Sinjai. Ibu Maryam yang mengelola panti tersebut mengatakan bahwa aku di ketemukan disebuah tong sampah dalam sebuah plastik kantong warna merah oleh seorang penduduk miskin yang akhirnya menitipkanku ke panti tersebut.
Diasuhnya aku hingga usiaku menginjak usia remaja bersama tiga anak yatim-piatu lainnya. Namun musibah itu tidak dapat dielakkan lagi, rumah tempat kami bernaung dilalap si jago merah. Semuanya habis, termasuk Ibu Maryam dan ke tiga anak penghuni panti lainnya hangus terbakar hingga tinggal puing-puing yang mengisahkan banyak cerita dan air mata. Hanya aku seorang yang selamat kala itu, karena ikut warga mencari ikan di laut sebagai rutinitasku sehari-hari buat keperluan hidup.
“ Butiran bening mengalir membasahi wajahku, menyatu dengan sisa buih seiring dingin yang menyergap persendianku.”
Karena musibah tesebut hingga akhirnya aku luntang-lantung tanpa arah hanya menuruti langkah kakiku saja.
Kucoba untuk kembali tegar menjalani kehidupan walau apa adanya. Suara pengamen jalanan sayup-sayup terdengar dari pojokan sana, menyanyikan lagu denga suara yang berat. Kuberdiri melangkahkan kaki melewati trotoar-trotoar tanpa tujuan yang jelas, semakin jauh meninggalkan losari dengan perut keroncongan. Dibelakangku Rotterdam diam terpaku, air matanya meleleh di dindingnya yang berlumut di telan usia.
Malam makin merambat jauh, kota pun lengang. Orang-orang tidur dengan buaian mimpinya. Aku berdiri di perempatan jalan, ngungun sejenak di bawah sebuah tiang reklame. Kembali kususuri jalan di bawah sinaran lampu-lampu Pub yang menawarkan kenikmatan. Langkahku henti di depan pintu sebuah Pub. Cekikikan kupu-kupu malam sayup terdengar dari dalam membangkitkan gairahku. Imajinasiku melayang bersama hembusan angin.
“ Ibu !”
“ apakah kamu ada diantara mereka ? “
Makassar, Juni 2002
ruang satu
ruang dua
sebuah ruang perkenalan awal sebelum persenggamaan jiwa dan persepsi menjadi sebuah sketsa hidup yang menggemaskan
ruang tiga
ajari aku tentang cara meraba langkahmu sambil membingkai jejak sebagai titipan untuk masa depan
ruang empat
kenalkan sosokmu di altar langit hingga biasnya menerangi bumiku
ruang lima
tentang cintaku padamu yang kemarin ku tambatkan di ranting-ranting pepohon.
Today, there have been 28 visitors (32 hits) on this page!
Terkadang kita harus mengakhiri sesuatu di tempat dimana kita memulainya. Karena sepertinya sebuah eksistensi kemanusiaan harus dipertanyakan kembali, apakah betul kita ada dan bergerak ditiap siang dan malam.
Ruang-ruang ini semakin sempit saja, karena sebanyak apapun kita membuat opini tentang ruang, maka secara tidak sadar kita sudah berubah menjadi angkuh dan membatasi ruang yang kita pahami. Lalu apalagi yang mesti dipertahankan, jika pada akhirnya kita sendiri yang menciptakan batas ruang dan waktu itu dan kemudian menjelma menjadi......
This website was created for free with Own-Free-Website.com. Would you also like to have your own website?