percintaan adalah proses perbudakan rasa yang membawa kepada kebebasan tiaptiap manusia. Penyerahan rasa yang dilakukan merupakan aktualisasi jiwa yang ingin saling memberi. Bahasa cinta adalah bahasa universal yang tidak dimengerti hanya dengan sekelumit kisah. Dia akan terus mengalir bersama rasa. Akan tetapi ketika cinta mulai terbahasakan oleh lidah, seiring dengan itu maka dia mulai memakai topeng kebohongan dan kemudian musnahlah dia
menara cinta 4x4 (iip pasoloran)
menara cinta 4x4
“Praakk!”
Jalan yang tadinya sepi, tiba-tiba ramai oleh warga yang berhamburan mendengar suara yang sangat keras tadi. Tampaknya telah terjadi kecelakaan lalu lintas di jalan ini. Memang sebelum suara itu memecah sunyi, kami sempat melihat seorang pengendara motor yang ugal-ugalan. Mungkin orang itu yang sedang terkapar di atas aspal sekarang.
“Ayo kita kesana!” ajak Andi yang terlihat sangat penasaran dengan kejadian malam ini.
Lalu dia masuk menghambur kedalam kerumunan warga tanpa melihat kanan dan kiri sebelum menyeberang jalan. Tetapi tidak berapa lama kemudian, dia kembali ketempat kami berkumpul kemudian duduk tanpa sepatah katapun. Tidak jelas apa yang ada dalam fikirannya saat ini. Untuk tersenyum pun sepertinya membutuhkan waktu yang lama. Kami semua juga enggan bertanya karena takut kalau pertanyaan kami justru membuatnya tersinggung. Mata kami terus mengarah kekerumunan warga karena kejadian malam ini menjadi tontonan yang sangat menarik. Tak ada kata-kata yang terlontar dari mulut kami, hanya kerutan di dahi yang menjadi bahasa bahwa banyak hal yang memenuhi ruang otak kami saat ini.
Seketika semuanya kembali gaduh saat Yudi menorah kearah lain, tiba-tiba saja dia melompat hendak berlari dan menyebut.
“Astagfirullah…!”
spontan hal itu membuat kami kaget dan melihat Yudi yang kelihatan tegang seperti kesetrum listrik tegangan tinggi.
“Ada apa?”
“Kau lihat apa?” jari telunjuk Yudi perlahan-lahan menunjuk kearah sebelah kiri.
“Astaga…!” setahu kami hampir bersamaan.
Terlihat seorang ibu terkapardi jalan dengan sebuah motor yang menindihnya. Di samping seorang anak kecil meraungsekeras-kerasnya meratapi ibunya yang kaku tidak bergerak lagi. Dan hanya dalam hitungan detik, pandangan kami sudah terhalang oleh kerumunan warga yang mencoba menolong ibu tadi. Andi ayo sejak tadi hanya duduk diam, tiba-tiba berdiri.
“Ayo kita kesana!”
Tanpa basa-basi, dia langsung berlari kencang mungkin menuju kearah kearah kerumunan itu. Dia sepertinya sudah melupakan kejadian yang terjadi sebelumnya. Tampak jalan raya di depan sudah mulai macet karena dua kejadian yang beruntn ini. Warga yang ada di tempat kejadian, tidak lagi menghiraukan lalu-lalang kendaraan yang bisa membahayakan jiwanya. Mereka mendekat kelokasi kejadian, ada yang hanya ingin melihat, ada yang ingin menolong, bahkan ada yang ingin menyelamatkan barang-barang berharga korban.
Tidak lama kemudian, Andi kembali ketempatnya semula. Hal yang sangat kontradiksi terjadi padanya. Dia datang dengan senyum yang terlukis jelas di wajahnya, tetapi tetap bungkam. Kembali dia memaksa kami untuk enggan bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi dan yang membuat dia tersenyum. Dan sekali lagi kerutan di dahilah yang menjadi bahasa bahwa banyak hal yang kembali datang menyerang di kepala kami. Teka-teki.
Yudi tampak sudah mulai tenang. Tidak ada lagi shock, ketegangan atau cemas, dia kembali duduk tapi matanya masih sedikit liar melihat warga setempat yang semakin memadati jalan raya. Diam masih menemani.
“Siapa yang memesan teh ini?” tiba-tiba saja suara mama pemilik warung memecah sunyi yang sejak tadi menyelimuti. Kemudian kuangkat sedikit tangan agar dia tahu kalau aku yang memesan teh itu. Setelah melihatku, mama kemudian datang membawa segelas teh hangat dan menaruh di atas meja tepat di tengah-tengah kami. Di atas meja juga ada sebungkus rokok yang sejak tadi belum tersentuh. Biasanya dalam semalam kami bisa menghabiskan beberapa bungkus rokok sebelum pulang ke rumah masing-masing. Tapi malam ini semuanya tampak berbeda, selera kami untuk merokok seolah-olah hilang begitu saja. Kami asyik dengan diri sendiri.
Sayp-sayup terdengar suara ambulance menuju kearah kami,. Sepertinya sebentar lagi kedua korban kecelakaan itu akan di bawah kerumah sakit. Darah masih memerahi aspal yang tadinya berwarna aspal.
“Ambulance sudah datang!”
“Cepat angkat kedua korban!” teriak salah seorang warga yang sejak tadi ada di lokasi kejadian. Suasana kembali gaduh oleh teriakan-teriakan warga yang mencoba menolong korban. Kemudian kedua korban di ususng menuju ambulance yang baru saja tiba.
Kondisi kedua korban sangat memperihatinkan. Mereka tak bergerak sama sekali dan darh terus memaksa dan membanjiri tubuh mereka. Setelah keduanya aman, ambulance pun bergerak perlahan-lahan tapi pasti. Satu-satu warga yang sejak tadi memenuhi badan jalan, pulang kerumah masing-masing dengan membawa sebentuk cerita untuk di jadikan santapan beberapa hari. Dan setelah itu terlupakan dengan sendirinya.
Malam sudah larut, tidak ada lagi warga yang berkumpul di sekitar lokasi kejadian, hanya beberapa kendaraan yang lewat di depan kami. Kejadian tadiseolah-olah tidak lagi mengusik malam, semua tampak kembali normal kembali. Aku lalu mengambil sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam.
“Malam ini semuanya tampak aneh.” kataku pelan
“Tidak, semuanya normal-normal saja.” kilah Andi sambil meminum teh yang sudah dingin.
“Betul, akupun merasa malam ini terasa sangat aneh. Tiba-tiba saja kita di suguhkan dua tontonan yang sangat menarik dalam waktu yang hampir bersamaan.” Adi mencoba angkat bicara”.
“Saya merasa kejadian ini biasa-biasa saja. Tidak ada yang aneh malah justru kalianlah yang aneh!” Andi kembali bicara.
“Kalau kami ini aneh, lalu kamu bagaimana?” protes Aco.
“Kenapa sewaktu kecelakaan itu terjadi, kamu menjadi sangat tidak jelas. Setelah kejadian pertama, kamu kembali kesini dengan wajah muram. Tapi setelah melihat kejadian kedua, yang terjadi malah sebaliknya kamu kembali kesini dengan wajah yang sangat ceriah dan senyum di bibirmu. Kenapa?”
Sepetinya sepi yang sejak tadi menemani, sudah mulai beranjak pergi. Kami juga sudah mulai menyentuh teh dan rokok yang ada di atas meja.
“Aku muram pada waktu kejadian pertama, karena korban tewas seketika dan masih berusia sangat muda. Dan kenapa aku tersenyum saat ibu tadi tertabrak, karena ibu itu tewas di samping anaknya yang menangis sekuat-kuatnya. Jadi menurut kalian, apanya yang aneh?. Justru semua hari ini menjadi sangat berharga dan jelas buat kita, mereka dan semua orang yang tahu kejadian ini”
“Lalu apanya yang aneh?” Andi malah balik bertanya.
Kami memandang satu sama lain dan mencoba untuk memahami apa yang ada di dalam kepala Andi. Semuanya datang begitu saja dan sekarang menteror, mencabik-cabik dan mengguncang rasio kami.
Seketika pembicaraan terhenti sebab tepat di depan kami, seorang pengendara motor terpaksa mencium tanah airnya karena motor yang dikendarainya menginjak sebuah lubang jalan yang sejak dulu sampai sekarang belum juga tersentuh pengaspalan jalan. Sontak kami kaget dan berdiri bermaksud untuk menolong tapi tiba-tiba niat itu urung kami lakukan karena angin kencang disertai hujan lebat menghantam tubuh dan otak kami. Akhirnya kami lari untuk mencari tempat berteduh. Mata kami masih awas pada pengendara tadi yang kini berada di tempat kami berkumpul. Dia tidak mengalami cedera serius, hanya saja kecelakaan itu cukup untuk merobek jaket kulit yang dia kenakan.
Hujan masih deras, kini tempat itu bungkam bersama penghuni barunya. Sebuah tanya menggorogoti benak kami. Apakah kami datang atau tidak?
“Ah, lalu kenapa hujan masih asyik bermain-main denganpetir?”
Makassar,220807
iip pasoloran
ruang satu
ruang dua
sebuah ruang perkenalan awal sebelum persenggamaan jiwa dan persepsi menjadi sebuah sketsa hidup yang menggemaskan
ruang tiga
ajari aku tentang cara meraba langkahmu sambil membingkai jejak sebagai titipan untuk masa depan
ruang empat
kenalkan sosokmu di altar langit hingga biasnya menerangi bumiku
ruang lima
tentang cintaku padamu yang kemarin ku tambatkan di ranting-ranting pepohon.
Today, there have been 18 visitors (22 hits) on this page!
Terkadang kita harus mengakhiri sesuatu di tempat dimana kita memulainya. Karena sepertinya sebuah eksistensi kemanusiaan harus dipertanyakan kembali, apakah betul kita ada dan bergerak ditiap siang dan malam.
Ruang-ruang ini semakin sempit saja, karena sebanyak apapun kita membuat opini tentang ruang, maka secara tidak sadar kita sudah berubah menjadi angkuh dan membatasi ruang yang kita pahami. Lalu apalagi yang mesti dipertahankan, jika pada akhirnya kita sendiri yang menciptakan batas ruang dan waktu itu dan kemudian menjelma menjadi......
This website was created for free with Own-Free-Website.com. Would you also like to have your own website?