percintaan adalah proses perbudakan rasa yang membawa kepada kebebasan tiaptiap manusia. Penyerahan rasa yang dilakukan merupakan aktualisasi jiwa yang ingin saling memberi. Bahasa cinta adalah bahasa universal yang tidak dimengerti hanya dengan sekelumit kisah. Dia akan terus mengalir bersama rasa. Akan tetapi ketika cinta mulai terbahasakan oleh lidah, seiring dengan itu maka dia mulai memakai topeng kebohongan dan kemudian musnahlah dia
baju di hari kemerdekaan (iip pasoloran)
BAJU DI HARI KEMERDEKAAN
Memasuki bulan agustus, hampir semua orang telah mempersiapkan dirinya untuk turut meramaikan hari yang dianggap sebagai momentum bagi jiwa-jiwa patriotik anak bangsa. Hampir tiap jengkal tanah di negeri ini telah dihias dengan pernak-pernik yang berwarna merah dan Putih, katanya sih asal bernuansa kemerdekaan. Begitu juga suasana jalan-jalan setapak yang ada di lingkungan rumah Baco. Semua rumah yang ada memasang bendera merah-putih di halaman masing-masing. Ada yang besar dan kecil, juga ada bendera baru dibeli tapi ada yang sudah kusam. Mungkin strata sosial Negara ini bisa juga dilihat dari hal itu. Untuk memeriahkan hari kemerdekaan, bukan hanya bendera yang dikibarkan di tiap rumah-rumah penduduk, tapi semua pemuda di lingkungan maing-masing mempersiapkan segala sesuatu yang akan ditampilkan di acara puncak yaitu pesta rakyat. Mulai dari anak kecil sampai orang tua mempersiapkan dirinya untuk tampil di atas panggung, termasuk Baco.
Baco adalah seorang pemuda yang memiliki kekurangan fisik dibandingkan dengan orang-orang pada umumnya. Sekarang usianya menginjak 17 tahun. Dia termasuk anak yang memilih untuk menyendiri, bukan karena dia hanya memiliki satu kaki tapi memang dia sangat senang dengan kesendiriannya. Dia kehilangan kaki ketika masih berumur 7 tahun akibat kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya. Terkadang ibunya heran melihat kebiasaan itu. Pemuda yang lain biasanya lebih memilih keluar dan bergaul, sementara dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menulis atau membaca. Walaupun tulisannya tidak untuk diperlihatkan kepada orang lain. Dia sangat disayang oleh ibunya, mungkin karena dia adalah anak tunggal.
Aso, begitulah panggilan yang akrab di telinga Baco. Jika lulus SMA, sebenarnya dia sangat ingin melanjutkan sekolahnya di universitas tapi semua itu sulit diwujudkan karena keluarganya tidak mampu. Ibunya hanya bekerja sebagai penjahit rumahan yang hanya bisa memenuhi kebutuhan makan sehari-hari serta biaya sekolahnya, sementara ayahnya sudah meninggal sejak 10 tahun yang lalu. Terkadang dia merenung tentang bagaimana jika dia menjadi seorang mahasiswa dan setelah itu membangga-banggakan mahasiswa di depan ibu atau teman-temanya.
“Mahasiswa adalah pejuang masa kini. Mereka telah membuktikan bahwa mampu membawa perubahan bagi Negara ini, dan itu terbukti di tahun 1998.” katanya dengan berapi-api.
Tetapi semua itu berubah ketika dia sering menonton berita tentang mahasiswa yang sering tawuran antar sesamanya. Dan sekarang keinginannya untuk menjadi mahasiswa dikubur dalam-dalam, dia hanya ingin menjadi Baco, Baco yang tanpa memakai berbagai macam embel-embel.
“Inakkemi anne La Baco.”
Baco juga sebenarnya sangat memiliki obsesi untuk menjadi anggota Paskibraka. Setiap ada tontonan paskibraka, pasti tidak dialewatkannya. Hanya karena faktor kakinya yang buntung, maka dia menguburnya dalam-dalam.
……………………
Seminggu sebelum 17 agustus, Baco bermimpi aneh. Di dalam mimpinya dia bisa berjalan normal seperti orang kebanyakan. Dia memiliki kaki yang lengkap, tetapi dia brada di sebuah ruang entah yang sangat luas. Di depannya ada sebuah lorong yang gelap. Dia memutuskan untuk menyusurinya, dan dia berjalan menyusuri lorong itu. tidak berapa lama berjalan, dia melihat cahaya matahari.
“Sepertinya itu ujung lorong ini.” katanya sambil mempercepat langkahnya.
Cahaya itu semakin lama semakin besar sehingga semakin membuat Baco penasaran. Setelah sampai di ujung lorong, betapa kagetnya dia, ternyata dia sekarang berada di halaman istana Negara dan di halamannya sedang di adakan upacara pengibaran bendera. Beberapa saat dia tercengang dan setelah itu berususaha mengingat-ingat sesuatu.
“Inikan tanggal 17!”
Dia kemudian berjalan mendekati lokasi upacara, dan melihat prosesinya. Ketika bendera pusaka ingin di arak untuk dikibarkan, dia melompat masuk kedalam arena upacara dan berlari kearah pasukan pengibar bendera. Tetapi entah kenapa dia seolah-olah tidak ada di tempat itu, karena tak seorang pun yang melihat dia bahkan ketika menghampiri barisan paskibraka dan berniat untuk bergabung, dia tidak bisa melakukannya. Setiap ingin menyentuh mereka, dia seolah-olah terhalangi oleh sebuah dinding.
“aku sudah memiliki kaki dan pantas untuk menggunakan seragam paskibraka, jangan mentang-mentang kalian dari keluarga militer sehingga seenaknya masuk dengan alasan karena dasar baris-berbaris kalian lebih baik!”
Memang sejak kecil Baco terobsesi untuk menyentuh bendera pusaka dengan tangannya sendiri. Tetapi karena kekurangan fisiknyalah yang membuat semuanya tinggal impian.
“Kalian tidak boleh melarangku!. Di sini aku tidak seperti di dunia nyata, seorang anak yang buntung. Lihat… lihatlah disana!, bendera pusaka sudah sejak tadi menungguku. Apakah kalian ini orang Indonesia sejati? Lalu kenapa kalian tak izinkan aku untuk menyambutnya?”
Baco terus memaksa dirinya untuk masuk ke dalam barisan, terus dan terus dia lakukan tetapi tetap saja hal itu tidak bisa, Baco seolah-olah menabrak dinding yang sangat kokoh.
Barisan paskibraka kini sudah dengan bendera pusaka dan berjalan menuju ke tiang bendera untuk mengibarkannya. Baco yang sudah lelah hanya berdiri dan memandang bendera pusaka yang berlahan-lahan bergerak naik diiringi dengan lagu kebangsaan. Semua orang yang ada disana hormat kepadanya kecuali Baco yang berdiri lesu dengan tatapan nanar. Air matanya jatuh seiring berkibarnya sang saka merah putih.
…………………………
Baco terbangun dari tidurnya lalu menyeka air mata yang masih mengalir. Kemudian dia melihat kakinya, ternyata dia masih seorang anak yang buntung. Subuh telah datang bersama adzan yang berkumandang indah, kemudian Baco meraih tongkatnya bermaksud untuk berwudhu. Tetapi betapa kagetnya dia ketika melihat dia atas mejanya ada sepasang seragam paskibraka lengkap dengan sebuah bendera. Tampaknya itu adalah hadiah dari ibunya, diapun beranjak dari kamar tidurnya dan menemui ibunya yang sejak tadi bangun tidur.
“Terima kasih dengan hadiahnya bu, semuanya akan aku simpan baik-baik. Tapi, apakah hari kemerdekaan ini mesti diperingati dengan selembar kain?. Biarkan merah putih berkibar dalam hatiku saja.”
Makassar, 170808
iip pasoloran
ruang satu
ruang dua
sebuah ruang perkenalan awal sebelum persenggamaan jiwa dan persepsi menjadi sebuah sketsa hidup yang menggemaskan
ruang tiga
ajari aku tentang cara meraba langkahmu sambil membingkai jejak sebagai titipan untuk masa depan
ruang empat
kenalkan sosokmu di altar langit hingga biasnya menerangi bumiku
ruang lima
tentang cintaku padamu yang kemarin ku tambatkan di ranting-ranting pepohon.
Today, there have been 24 visitors (28 hits) on this page!
Terkadang kita harus mengakhiri sesuatu di tempat dimana kita memulainya. Karena sepertinya sebuah eksistensi kemanusiaan harus dipertanyakan kembali, apakah betul kita ada dan bergerak ditiap siang dan malam.
Ruang-ruang ini semakin sempit saja, karena sebanyak apapun kita membuat opini tentang ruang, maka secara tidak sadar kita sudah berubah menjadi angkuh dan membatasi ruang yang kita pahami. Lalu apalagi yang mesti dipertahankan, jika pada akhirnya kita sendiri yang menciptakan batas ruang dan waktu itu dan kemudian menjelma menjadi......
This website was created for free with Own-Free-Website.com. Would you also like to have your own website?