percintaan adalah proses perbudakan rasa yang membawa kepada kebebasan tiaptiap manusia. Penyerahan rasa yang dilakukan merupakan aktualisasi jiwa yang ingin saling memberi. Bahasa cinta adalah bahasa universal yang tidak dimengerti hanya dengan sekelumit kisah. Dia akan terus mengalir bersama rasa. Akan tetapi ketika cinta mulai terbahasakan oleh lidah, seiring dengan itu maka dia mulai memakai topeng kebohongan dan kemudian musnahlah dia
mutiara di musim semi (dian_bahana)
Mutiara di Musim Semi
Tidak kusangka mentari bangun lebih pagi dariku. Padahal biasanya aku yang menunggunya di antara bingkai jendela kamar. Namun kali ini aku dikejutkan oleh sinarnya yang menyilaukan mataku. Uhh, tapi siapa yang sudah membuka gorden dan jendela kamarku, sehingga sinar mentari bisa masuk dan mengguyurkan panas ke tubuhku? Aku hanya seorang diri di rumah ini.
Haaah, jam 5…….? Kucoba sekali lagi menajamkan mataku dan memasang lensa cekung , mungkin karena jarak jauhnya. Tetapi jarum jam itu tetap saja tidak beranjak dari tempatnya. kupelototi sekali lagi dengan wajah marah, dia malah berlagak mengejekku. Hmmm, rupa- rupanya jam dindingku mencoba menyindir, karena hari ini aku bangun telat.
Kuraih jam tangan yang terletak di atas meja hias samping bedku. Astagaaaaa! ternyata bukan hanya mentari yang mendahuluiku, paman bubur ayam, pedagang nasi bungkus, pedagang soto, dan paman sayur yang tiap jam 7 sampai jam 9 pagi lewat depan rumahku ini juga telah mendahuluiku. aku mengecek sekali lagi di jam handphone, karena aku sungguh tidak yakin jika aku bangun pagi ini dengan posisi jarum pendek di angka 11 dan jarum panjang yang berada di bawah jarum pendek. Paling lama biasanya aku bangun jam 5.30 pagi.
Mentari masih saja menumpahkan cahayanya. Kutatap dia dengan sinis, karena ia juga menatapku dengan penuh ejekan. Bahkan enggan membeberkan sinarnya padaku. Hei, aku juga tidak mau kepanasan bermandikan sinarmu. Sinarmu sudah terlalu panas, penuh ejekan. Kutarik gorden itu kembali.
Aneh, ini merupakan sesuatu di luar kebiasaan. Aku benci, hari ini aku tidak bisa bercumbu dengan sunrise. kebahagiaan yang tersisa di lorong hatiku hanyalah saat aku bisa menyambut kehadirannya.
Hari ini berangin sekali, aku bisa merasakan itu dari desaunya. Pasti angin angin itu berlari meninggalkan sinar mentari, seperti aku juga. Jika ada angin pasti dahan-dahan asyik dengan tariannya. Kubuka gorden lagi, kulihat pepohonan di sekitar rumahku ini menari bebas. Gerakan yang indah, tapi mungkin hanya aku yang mengatakannya indah. Ada segumpal kebahagiaan yang menghapiriku, tarian pohon-pohon ini. Dua hal yang menjadi sahabatku sekarang adalah saat sunrise dan pohon-pohon yang menari.
Tiba-tiba tarian itu terhenti. Kemana perginya angin? Aku segera bersiul memanggil angin. Aku ingat satu hal yang dilakukan kakekku dulu, bersiul-siul bila beliau hendak menaikkan layang-layang. Itu juga yang selalu kulakukan jika angin mulai lelah.Aku menghiburnya.Sampai ia mendekat lagi dan kembali menggoyangkan sisi indah pepohonan ini.
Dahan-dahan ini menari semakin lincah, semakin gemulai, menjadi-jadi, menampakkan kepiawaiannya padahal tidak ada yang mengajari mereka. Kalian benar-benar membuatku iri.
Ah, tapi panas mentari ini masih saja membuntutiku. Sinarnya menyilaukan! Padahal aku sedang asyik dengan mereka; tari pohon-pohon. Biarlah aku yang mengalah. Kutarik lagi gorden jendelaku, lari dari panas mentari. Ups, siapa yang membuka gorden dan jendela kamarku tadi ? Jangan jangan ada orang masuk ke dalam rumahku. Maling…???? Televisi 21 inci masih setia berada di tempatnya. Laptop masih ada. Handphoneku dan semua barang barang berharga disini masih lengkap. Setan……???? Tapi tidak mungkin juga setan terlalu kreatif membukagorden dan jendela kamar. Hmmm, atau jangan-jangan aku sudah terbangun pagi-pagi lalu aku membukanya. Melakukan semuanya di bawah sadar. Lalu tidur lagi.
Kuturunkan juga badanku dari bed. Kuteliti di ruang tamu masih rapi. Semua tidak ada yang iseng berpindah dari tempatnya. Di dapur juga begitu. Semua pintu dan jendelapun tidak ada yang terbuka, kecuali yang di kamarku. Lantas, siapa yang membukanya? Ah sudahlah! Aku tidak mau ambil pusing. Toh, aku tidak merasa dirugikan juga dengan ini. Mungkin benar saja, jika aku yang telah membukanya dalam keadaan tidak sadar.
*******
Hidup seperti ini sangat membosankan ! Hatiku berteriak jujur. Aku langsung mengiyakannya. Iya, sangat membosankan. Ia menjawab lagi, dimana dunia kita yang sesungguhnya telah kau sembunyikan ?
“Aku tidak pernah menyembunyikannya. Kau pikir, aku menyukai ini ?”
Lalu, untuk apa kau memilih tinggal disini dan mengasingkan diri. Aku tahu, ini adalah pilihanmu sendiri.
“Rupanya selama ini kau tidak benar benar mengerti aku. Padahal sudah bertahun tahun kita bersama. Kamu tidak tahu, apa yang kurasakan. Seberapa dalam jurang kepedihan ini membuat aku terperosok dan seberapa tajam pisau itu menyayat mimpi-mimpiku. Kamu tidak pernah tahu, bukan !”
Bukan begini caranya ! Jalanmu masih begitu panjang. Kau terlalu cepat untuk menutup hatimu. Ketuklah dia kembali. Aku akan membantumu.
“Diamlah, Kawan!”
Tidak bisa.
“Aku yang menjalani kehidupan ini. Bukan kau! Kau hanya bersemayam jauh di dalam sini. Dan kaupun sulit ditemui, bahkan disaat saat sulit ketika aku membutuhkanmu. Jadi, biarlah aku menikmati semua ini”
Aku hanya ingin kau membuka kelima indramu dengan benar. Lihatlah indahnya dunia, hiruplah udara yang tidak kau dapatkan disini ! Dengarkanlah dendang burung-burung, dan rasakan setiap nikmat Tuhan sekalipun yang tidak terlihat dan terbaca. Suarakanlah semua mimpi-mimpimu pada dunia !
“Kau bodoh! Aku sudah katakan tadi, kau tidak mengerti dengan perasaanku!
Bagiku, tidak ada lagi bunga-bunga yang bermekaran. Juga baunya yang tidak lagi semerbak harum mewangi. Seperti musim salju di Kutub, semuanya terasa dingin, beku,menghanyutkan bahkan mematikan diriku”
Tapi,,,,
“Juga seperti musim panas! Tak ada kedamaian, tak ada kesejukan, apalagi tentang cinta! Sama sekali tidak ada. Semuanya membakar hatiku”
Tapi,,,,
“Juga seperti musim gugur! Dimana semua mimpi-mimpiku berjatuhan dengan rapi seirama dengan jatuhnya dedaunan yang menua dan berjatuhan dengan nyanyian penyesalan seperti bunga yang gugur sebelum dia mekar”
Tapi,,,
“Tapi aku ingin musim semi!Musim yang selalu kurindukan, musim dimana mimpi-mimpiku mulai bersemi dan akan selalu bersemi, musim yang benar-benar membuatku hidup. Dimana musim itu? Dia benar-benar telah pergi meninggalkanku tanpa jejak. Dia juga tak mau lagi bersahabat denganku. Aku biarkan saja semuanya gugur di bumi ini dan langsung terkubur dalam-dalam di dunia. Biarkan semuanya mati. Meskipun nafasku masih setia menyertaiku, tapi aku merasa telah mati. Dan disini aku hanya ingin menunggu dan bercanda dengan sunrise. Menari bersama pepohonan, sebelum aku benar-benar pergi untuk selamanya”
Kau memang be,,
“DIAMLAH! CUKUP DENGARKAN AKU! Dan sekarang aku sudah puas. Segeralah kau pergi”
Tanpa peduli, kututup kedua telingaku dan langsung berlari ke kamar mandi. Akan kuusir dia dengan guyuran guyuran air. kuhujamkan ke mulutnya yang selalu gatal mengguruiku.
*********
Selesai mandi memang segar. Tapi hanya ragaku yang merasakan itu, jiwaku sama sekali tidak pernah merasakannya. Oh, Aku harus segera mencari kesibukan, agar setan itu tidak datang lagi. Tapi apa yang akan kulakukan. Aku hanya ingin melihat sunrise dan menari bersama pepohonan. Sungguh hidup yang sama sekali tak berwarna. Hitam putih! Mungkin hanya hitam yang tersisa.
Rasa rindu mulai menyelinap ke dalam jiwaku. Padahal aku tidak pernah mengizinkannya untuk hadir! Aku harus kuat. Aku harus bertahan. Aku tidak boleh rindu pada siapa-siapa kecuali sunrise dan pohon yang menari. Aku harus bisa mengusir perasaan ini. Belum tentu mereka juga merindukanku. Aku adalah orang yang tidak berguna lagi di mata mereka; keluarga dan semua teman-temanku. Jadi tidak mungkin aku dirindukan.
Kujalani saja hidup yang kaku, dingin dan tanpa warna. Satu bulan sudah aku bernaung di rumah sederhana ini. Rumah mungil bercat hijau muda yang berpadu dengan hijau tua. Menyembunyikan diriku dan memenjarakan semuanya. Bahkan kepada sang rembulan aku tidak akan berani lagi menatapnya, menemuinya, apalagi untuk bercanda dengannya setiap kali sebelum aku tidur dan bermimpi. Tapi kini aku bukan lagi Tiara yang dulu. Aku sudah tidak pantas untuk bersamanya.
****
Tanpa kuinginkan, mataku diajak untuk melihat lagi memori memori kenangan yang diabadikan dalam beberapa album di atas lemari itu. Padahal sudah kuletakkan album-album itu di tempat yang jauh dari pandangan mataku. Tetapi kali ini mataku benar-benar diseret kesana. Bagaimanapun aku menolaknya, tetap saja ada satu kekuatan yang benar benar mengalahkanku. Mulai dari menyeret mataku dan kini menyeret langkahku yang berat, lalu memaksa tanganku untuk mengambilnya.
“aku sudah tidak mau lagi melihat foto-foto ituuuu…..!”
Bukan aku yang berteriak, tapi sepertinya suara itu berasal dari dalam diriku. Organ tubuhku yang bisa difungsikan sekarang hanya mata, tangan dan kaki. Selebihnya mati rasa. Aku hanya bisa pasrah. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Aku memang tidak berdaya lagi. Kini di tanganku sudah ada empat buah album. Kuletakkan yang lain dan kuambil satu album yang bertuliskan di cover depannya‘Festival Tari seKal-Sel dan wisata tari ke beberapa daerah di Kal-Sel.’ Belum lagi lembar pertama kubuka, derasnya air mataku membukanya lebih dulu. Menetes penuhkegetiran. Aku menangis.
Kulihat foto demi foto.
“Tiara, bersiaplah! Rileks saja. Jangan nervous! Sebentar lagi giliranmu. Mari teman-teman kita berdoa untuk Tiara”
“Terimakasih semuanya. Baik, aku akan buktikan semua jerih payah latihanku selama ini”
“Berikanlah yang terbaik untukmu sendiri dan sekolah kita!”
Itulah beberapa dialog yang masih belum terkubur jauh dalam otakku. Aku masih mengingatnya sebagian. Momen ketika pertama kali aku mengikuti festival tari. Ada mama dan papa yang tersenyum. Kutahu senyum itu untukku.Ah foto ini…….!
“Rin, ini pasti mimpi!”
“ Tidak Tiara. Kamu hebat. Ini kenyataan. Kamu akan melanjutkan perjuangan di tingkat nasional”
Foto ini mengabadikan saat aku menerima penyerahan trophy oleh Bapak Gubernur. Kata teman-teman, aku tersenyum sumringah saat bersalaman dengan beliau. Dan yang lebih penting lagi, ada pesan yang kutangkap dari sorot mata beliau saat menatapku, “Berlatihlah lebih giat! Bawa nama baik daerah kita di tingkat nasional”. Dengan penuh keoptimisan aku menganggukkan kepala berkali-kali pertanda janjiku kepada bapak gubernur.
Yang ini adalah album yang kedua. Berisikan memori ketika aku latihan tari untuk unjuk kebolehan kepada teman-teman senusantara. Semua orang terdekatku selalu memberikan support. Tapi, album ini tidak begitu indah. Karena aku hanya menyabet juara harapan di tingkat nasional. Aku sempat putus asa. Tetapi semua orangdekatku selalu mendukung untuk tetap mengasah skill ini. Karena mereka, semangatku kembali membanjir setelah sempat menyurut.
Berbagai event tari selalu aku ikuti. Akupun sering diundang untuk membawakan tari Baksa Kembang yang biasa dipakai untuk opening ceremony suatu kegiatan atau sekedar mengisi hiburan. Hari-hariku begitu disibukkan dengan tarian. Apalagi ketika aku di minta untuk menjadi pelatih tari di sebuah sanggar ketika aku telah duduk di perguruan tinggi. Tidak kusadari aku telas bernafas dengan kelemahgemulaiannya. Semua ini telah dibuktikan dengan pengabadikan dalam album ketiga yang penuh warna.
Demi taripun, hampir saja gelar anak berbakti yang kusandang bertahun-tahun hilang. Bagaimana tidak, ketika SMA aku telah bercita cita untuk melanjutkan ke jurusan tari. Ternyata setelah aku lulus, ayah tidak mengiijinkan dan mengancam tidak akan membiayai kuliahku jika aku tetap ngotot.
Tapi aku bersyukur, berkat celotehan tante-tante ku. Gombal dari teman-temanku dan bujukan maut mama, akhirnya ayah mau memberikan rekomendasi padaku. Terimakasih, mimpiku bersemi di musim semi ini. Aku berjanji tidak akan ada musim gugur yang akan menggugurkan mimpiku. Tidak akan ada musim panas yang keringkan mimpiku serta tidak akan ada musim dingin yang bekukan mimpiku. Inilah hidupku. Aku merasa takkan terpisahkan; antara aku dan tari. Dan sebenarnya aku telah bertekad, walaupun ayah tidak mengizinkan aku akan tetap memilih tari meskipun dengan biaya sendiri.
Album terakhir….! Mengapa kelopak mataku bagaikan bendungan yang hampir jebol karena tidak kuat menahan air. Padahal, tadi aku telah dibawa pulang kedalam negeri kenangan. Rasanya, aku bahagia sekali. Rasanya aku menemukan kembali dunia yang hilang. Dan perjalanan tadi telah mampu menghapus airmata yang hadir beberapa jam yang lalu.
Di album ke empat ini, tersimpan berjuta kenangan tempat mimpi-mimpiku menari di atas altar beratap kaca. Album terakhir kehidupanku. Tidak akan lagi ada album yang kelima. Inilah puncak dari mimpi-mimpiku itu.
Aku persilakan album ini untuk bercerita tentang isinya. Sesuka hatinya. Aku akan menjadi pendengarnya yang setia, meski kini air mataku hampir menitik lagi.
Katanya, foto ini di Bandung Ketika Tiara sebagai perwakilan dari Kalimantan terpilih sedang dikarantina bersama dengan teman-teman dari Papua, Jawa, Sumatra dan Sulawesi yang semuanya berjumlah 30 wanita cantik. Mereka akan di berangkatkan ke Thailand dalam acara Pameran Tari kolaborasi selama dua minggu.
Karantina selama satu bulan. Tiara sibuk sekali sebelum keberangkatan karantina. Mulai dari persiapan pakaian, kamera digital, handycam kesayangan ayahnya dan lain-lain. Kali ini Tiara tidak akan repot-repot membujuk ayah untuk perijinan. Karena pihak Dekanat langsung yang meminta izin pada ayah. Ayah mati langkah, tidak bisa mengeluarkan argumennya yang selalu saja dipakainya.
Ini adalah pose Tiara yang paling indah. Dia berpose sesukanya, namun keren. Dia berada di antara penari-penari senior dari Bandung dan Jakarta yang menjadi pelatih saat karantina berlangsung. Dan yang ini fotonya bersama Vikka asal Makassar. Kali ini fotonya terlihat jutek, karena Tiara kurang suka dengan Vikka yang suka meminjam pakaian Tiara. Nah, kalau yang ini ekspresi cemberut, soalnya di sampingnya ada Jenny asal Solo yang sangat cantik dan kelemahgemulaiannya tak ada yang bisa mengalahkan, termasuk Tiara. Tiara jealous, karena Mister Fan; salah satu pelatih yang paling cool perhatian sekali dengan jenny.
Nah, ini foto foto saat mereka sedang asyik latihan. Tiara sempat tertangkap kamera. Dia tidak memperhaikan Mister Kym yang sedang melatih. Tiara sedang asyik dengan bayang ayah dan mamanya. Untung tidak ketahuan Mister Kym.
Foto yang ini diambil waktu Tiara membuat video record. Katanya untuk dikirim ke teman-teman dan orang tua sebagai pengobat rindu. “Hai semuanya….! Mama, ayah, dan lain-lain yang menonton video ini. Aku kangeeeeen sama kalian. Doa untukku yaaa! Karantina disini asyik, tapi tetap saja kurang seru tanpa kalian. Semakin hari, aku semakin nervous. Aku dan Thailand sangat jauh, tapi kini aku merasa semakin dekatdengannya. Aku tidak pernah menyangka, kalau bulan akan menjemput mimpi yang setiap hari kukirim ke langit. Mimpi itu akan datang menjemputku bersama lembaran-lembaran kenyataan. Perlu kalian tahu, sejak kecil aku memang telah bermimpi bisa menari di Thailand. Tapi aku tidak begitu memeluk mimpi itu, karena itu kuanggap khayalan tingkat tinggi saja. Hanya, musim semi yang selalu memeluk mimpi itu. Dan sekarang, musim semi melepaskan pelukannya dan mendekapkan kepadaku. Terimaksih untuk semua dukungan yang tiada henti-hentinya kalian kirim untukku. “Thankz for all.”
Kalau yang ini adalah foto-foto yang merupakan agenda rutin mereka saat di karantina. Setiap pagi mereka harus bangun lebih dulu dari pada raja tatasurya. Mereka harus berolahraga atau yang biasa disebutTiara olah tubuh. Di lapangan seluas satu hektar ini, senyum manis memulai untuk mengawali aktifitas karantina. Jika sang raja tatasurya telah keluar dari istananya, kami berhenti sejenak. Beristirahat sambil memasukkan dan menyatukan energy yang ada padanya yang terpancar langsung dari atas sana tanpa penghalang apapun. Masing-masing dari mereka mempunyai caranya menyambut sang raja. Seperti Tiara, yang meniru gaya yoga ketika menyambut dan menyentuh energinya.
Setelah cukup puas mereka akan menutup rutinitas ini dengan pendinginan. Mereka akan ditemani banyak pepohonan yang menari diiringi alunan musik alam yang berhembus, memberikan kesejukan di wajah lapangan. Dengan berseragam hijau, mereka dengan judesnya menari, tidak serempak namun begitu indah dipandang. Mereka tidak mau kalah dengan kami.
Kututup album ini dengan butiran airmata yang tiada henti. Album ini telah lelah bercerita. Aku juga sudah tidak tahan mendengar ceritanya. Tiba-tiba aku merasa semua menyalahkanku, termasuk album ini. Semuanya mencaci dan terus mencaci aku.
“DIAAAAAAM….!”
Suasana menjadi hening kembali. Suara-suara itu datang kembali menyerangku. Bertubi tubi. Mengeroyok aku yang sendiri tanpa ada pendukung. Aku bingung harus bagaimana menghentikannya. Aku sudah sangat terdesak dan terhimpit dalam rumah ini.
Kuambil keempat album itu dan langsung kubakar. Ternyata aku memakai jalan keluar yang tepat. Suara hatiku telah dicabut nyawanya dan tidak bisa bersuara lagi. Suara album ini juga telah menjadi abu.
Aku sudah tenang. Biarlah semua Seperti musim salju di Kutub. Semuanya terasa dingin, beku. Menghanyutkan bahkan mematikan diriku. Juga seperti musim panas. Tanpa kedamaian, tidak ada kesejukan, apalagi tentang cinta. Sama sekali tidak ada. Semuanya membakar hatiku, juga seperti musim gugur! Semua mimpi-mimpiku berjatuhan dengan rapi seirama dengan jatuhnya daun-daun yang menua dan berjatuhan dengan nyanyian penyesalan seperti bunga yang gugur sebelum dia mekar.
*****
Hari ini sudah mau pergi. Matahari tidak lagi masuk lewat jendela kamarku. Ia sudah mulai membenamkan dirinya. Saatnya rembulan menggantikan matahari yang telah lelah. Dengan berakhirnya hari ini, aku juga ingin mengakhiri kesedihanku selama ini. Aku akan bahagia menyusul mimpi-mimpiku yang telah terkubur dalam di perut bumi.
Maafkan aku yang telah pergi meninggalkan kalian. Karena lebih baik aku disini. Terasing. Akan lebih baik lagi jika aku meninggalkan kalian untuk selama lamanya. Tidak akan ada lagi Tiara di sisi kalian, di sisi dunia. Tetapi aku berharap akan ada Tiara baru yang menggantikan aku untuk pergi ke Thailand suatu saat. Namun dia adalah Tiara yang selalu semangat, Tiara yang tetap akan bermimpi meskipun di musim gugur. Tiara yang tetap optimis di musim dingin. Tiara yang hidup di musim panas dan Tiara yang bisa menerima takdir hidupnya dengan lapang dada.
Tidak seperti Tiara yang sekarang. Biarlah aku menyusul mimpiku di alam Tuhan. Akan kutunggu kelahiran Tiara yang baru yang akan mengukir senyumku kelak.
****
Sudah dua hari. Namun tidak ada yang mengetahui bahwa di rumah mungil bercat hijau muda yang berpadu dengan hijau tua ini. Seorang wanita cantik, dingin membeku tanpa nafas. Di atas telapak tangannya tersisa secarik Koran lusuh.
Harian Radar. Jumat, 09 Oktober 2007
Mutiara Nursyifa, yang lebih akrab disapa Tiara anak dari pasangan M. Nor dan Siti Aisyah kelahiran 21 tahun silam ini masih belum juga sadarkan diri. Penari andalan Kal-Sel yang dipercayakan Indonesia untuk menjadi salah satu utusanpada acara pameran tari di Thailand bulan November mendatang mengalami musibah kecelakaan hebat Rabu kemarin. Tidak diketahui bagaimana persis kejadian. Karena peristiwa naas ini terjadi malam hari sehari setelah kepulangannya dari masa karantina di Bandung.Tiara ditabrak oleh bus yang melaju kencang. Sang ibu yang ditemui wartawan saat di Rumah Sakit mengaku begitu shock. Dia bersyukur Tiara masih hidup, namun kedua kakinya lumpuh total, lumpuh seumur hidup. Dia tidak tahu bagaimana jika putrinya ini mengetahuikeadaannya sekarang. Satu bulan lagi adalah keberangkatannya ke Thailand. Tiara begitu mencintai tari. Namun dengan kedua kakinya yang lumpuh, Thailand hanya tinggal kenangan. Hari Rabu kemarin adalah terakhir kalinya dia menari.
ruang satu
ruang dua
sebuah ruang perkenalan awal sebelum persenggamaan jiwa dan persepsi menjadi sebuah sketsa hidup yang menggemaskan
ruang tiga
ajari aku tentang cara meraba langkahmu sambil membingkai jejak sebagai titipan untuk masa depan
ruang empat
kenalkan sosokmu di altar langit hingga biasnya menerangi bumiku
ruang lima
tentang cintaku padamu yang kemarin ku tambatkan di ranting-ranting pepohon.
Today, there have been 21 visitors (25 hits) on this page!
Terkadang kita harus mengakhiri sesuatu di tempat dimana kita memulainya. Karena sepertinya sebuah eksistensi kemanusiaan harus dipertanyakan kembali, apakah betul kita ada dan bergerak ditiap siang dan malam.
Ruang-ruang ini semakin sempit saja, karena sebanyak apapun kita membuat opini tentang ruang, maka secara tidak sadar kita sudah berubah menjadi angkuh dan membatasi ruang yang kita pahami. Lalu apalagi yang mesti dipertahankan, jika pada akhirnya kita sendiri yang menciptakan batas ruang dan waktu itu dan kemudian menjelma menjadi......
This website was created for free with Own-Free-Website.com. Would you also like to have your own website?