percintaan adalah proses perbudakan rasa yang membawa kepada kebebasan tiaptiap manusia. Penyerahan rasa yang dilakukan merupakan aktualisasi jiwa yang ingin saling memberi. Bahasa cinta adalah bahasa universal yang tidak dimengerti hanya dengan sekelumit kisah. Dia akan terus mengalir bersama rasa. Akan tetapi ketika cinta mulai terbahasakan oleh lidah, seiring dengan itu maka dia mulai memakai topeng kebohongan dan kemudian musnahlah dia
iip pasoloran_1
BISKAL UNTUK AKU,
KALIAN DAN MEREKA
Atas nama demokrasi yang masih menjadi slogan di negeri ini
di sini, masih banyak suara yang tertahan di antara dindingdinding tirani dan tak mampu keluar walau sekedar menyapa
di sini, masih ada langkah tertatih di atas tanah milik sendiri
pun tak mampu bergerak walau sekedar berpijak
Atas nama kebenaran yang masih samar di negeri ini
apakah laras yang mesti jadi sahabat sementara dia makin angkuh melangkah dan mencipta deretan nadanada kebingisan yang terus menebar teror ditiap siang dan malam
apakah desing peluru yang mesti merobek dada saat kepalan tangan diacungkan sebagai tanda perlawanan dan pena diteguhkan menjadi badik untuk menikam segala penindasan di bumi pertiwi ini
apakah raung panser yang mesti merubah hari itu menjadi hari kepiluan kami yang terus membekas seperti
jejak panser di atas aspal sebagai bukti sejarah
Atas nama keadilan yang masih tanda tanya
siang itu berubah menjadi drama tragedi kolosal tatkala tirai debu yang menjadi layar tersingkap oleh derap kaki mereka yang katanya pahlawan
mesti dengan nyawa teriakan itu dibayar
entah apakah setiap teriakan di negeri ini dianggap berbahaya bagi rezim penguasa
padahal teriakan itu berasal dari nurani teraniaya yang entah kapan akhirnya
Atas nama masa yang belum juga berubah
mestikah tontonan ini menjadi sarapan pagi anakanak kita dan kelak menjadi borok menahun yang mungkin tidak bisa mereka bangga-banggakan
mestikah semua kita ukir rapi untuk dijadikan artifak sebagai bukti masa kejayaan untuk kekerasan
Atas nama pengorbanan yang terlupakan
apa masih ada geliat di atas tanah dimana kami istrahat?
apa masih ada yang melanjutkan perjuangan kami yang sempat tertunda?
tolong, jika kelak di atas makam kami tumbuh sekuntum bunga, maka jangan kalian bersihkan karena itu adalah bunga kesejatian yang tak akan lekang oleh zaman
Atas nama demonstran yang masih tersisa
teruslah maju walau berondongan timah panas senantiasa menghadang langkah kalian
seandainya kami diberi satu kesempatan untuk bisa berteriak sekali lagi
kami akan berteriak keras-kerasnya hingga mampu merobekrobek telinga mereka yang sudah lama tuli
Atas nama ibu yang melahirkan kami
jangan pernah menyesal atas kepergian kami karena kami mati atas nama yang kami suarakan
jangan menangis lagi karena kami tak pernah menyesal
memilih untuk berada di jalanan
Makassar, maret 2005
iip pasoloran
(Dedicated for the students of UMI who died in holy at April Makassar Berdarah “AMARAH” tragedy on April 24 1996) SAJAK PENANTIAN
Masih di sebuah penantian
akan pasti mati dan hilang
Seorang manusia asyik bergelut waktu
bersenggama riuh malam
untai helai rambut pelangi
saat hujan tinggalkan bumi
dan matahari tikam hari
Sampai pati mati dan hilang
Masih di sebuah penantian
akan pasti mati dan hiang
Seorang manusia mencari sari kasturi
bau harum surgawi
harap tetes embun firdaus
layaknya Adam menanti Hawa
dalam kekosongan jiwa
terus hujam sisi kehidupan
Sampai pasti mati dan hilang
Masih di sebuah penantian
Akan pasti mati dan hilang
Andai ada sebuah pilihan
pasti harap lahir sebelum
Makassar, nopember 2003
iip pasoloran
SAJAK UNTUK PERDAMAIAN
Coba kita lihat rombongan burung yang terbang
dengar riang kacau mereka
Tak ada kesedihan di sela-selanya
Pun pertikaian
Kenapa tidak ingin menjadi seperti mereka
Hidup berdampingan seolah tak ada sekat membatasi
Kenapa tidak mencoba berkicau seperti mereka
Bernyanyi lagu satu perdamaian
Kenapa tidak?
Makassar, maret 2003
iip pasoloran
MUNGKIN ITU NASIBMU
Setelah sunset kau tampakkan diri
Dengan wajah dan senyum sedikit terpaksa untuk sebuah impian
Kau menjual banyak keindahan, menyuguhkan segenggam kenikmatan untuk menyambung nyawa
Tak jarang kau sedikit genit menarik minat lelaki penikmat sex
Kau coba rayu mereka dengan tingkah yang menggairahkan
Setelah shubuh kau pun menuai hasil
Bulan yang menggantung pada malam
Kau tersisih di kehidupan
Makassar, maret 2003 iip pasoloran
SAJAK BUAT IRAK
Asap hitam mengepul tebal di atas langitmu
Itu yang aku lihat
Gemuruh tank anti peluru menebar teror
Itu yang kurasa
Haru pilu menggema memecah gendang telinga
Itu yang kudengar
Adakah perusak itu sama seperti aku?
Makassar, maret 2003
iip pasoloran
TEH MANIS
Nikmat kalau kucicipi malam dengan segelas teh manis
sambil mendengar kau bernyanyi. Mudah-mudahan suaramu tidak memecahkan gendang telingaku
Pun jejak kau tinggalkan
Masih memadati etalase-etalase mimpi manusia
Sepertinya kau terus tumbuh dan terus saja bernyanyi
tanpa memikirkan suara-suara lain
Atau aku yang semakin kecil
Stop! Kau mencemari teh manis buatku malam ini
Makassar, mei 2006
iip pasoloran
TEH MANIS II (untuk masyarakat negeri 4x4)
Mak, tolong buatkan teh manis ya…..
Aku masih mau melanjutkan mimpi yang kemarin sempat tertunda
Teh manis buatanmu bisa menemani dan menunda lapar juga dahagaku. Sekaligus memintal kembali syaraf-syaraf ku yang kusut
Semoga besok aku bisa dapat baju baru.
Makassar, mei 2006
iip pasoloran
KAMAR SENDIRI
Mak, tolong bangunkan aku kalau matahari sudah terbit
Sebab sudah puluhan tahun aku tunggu sentuhan sinarnya yang lembut seperti belaimu waktu aku masih kecil dulu
Mak, jangan lupa ketuk pintu kamarku dulu karena pasti terkunci dari dalam
Sebab aku takut ada orang lain masuk dan membongkar lemari nuraniku
Engkau jangan juga masuk, mak
Aku takut nanti engkau kaget lihat isi kamarku
Mungkin tidak seperti inginmu sewaktu aku masih digendong dulu
Pun jangan menyusup masuk mak
Karena engkau bukanlah anjing tiran
Yang selalu curiga akan generasinya
Cukup salami aku
Pasti itu kujawab
Mak, maaf.
Makassar, juni 2006
iip pasoloran
SEMU
di langit kotaku
hanya ada titik-titik bintang
yang membentuk tanda tanya
tanpa aksara dirinya
selamat bermimpi!
Makassar, juni 2006
iip pasoloran
KAMAR SENDIRI II
sering kulihat kau telanjang bulat dalam kamarku
sering kau tawarkan kepuasan
dan saat itu kau tuntaskan dahagaku
biarkan kujamah kau dari ujung rambut sampai kaki
tak apa kau kujilati
karena ada damai saat kurangkul dan kubawa kau ke atas ranjang
mari senggama bayanganku
cuma kau yang tahu kapan kucapai puncak itu
Makassar, juni 2006
iip pasoloran
WASIAT
di sebuah ruang tempat kusimpan warisan untuk besok
kuajak dia bercinta sejenak dan melepas semua hijab materi yang selalu saja memenjarai birahi
tidak kuingat lagi awal dia mulai mencumbui jasadku yang masih hijau dan hanya tahu mengemis untuk sesuatu yang belum kumiliki
sampai saat sudah kukenal orgasme dia hampir tak bisa lagi lepas dari apa yang kumau
sampai pada saat aku enggan dia berontak dan menggugat bahkan mengutuk lalu pergi ke negeri entah
kutulis kalimat wasiat untuk dia
semoga suatu hari saat aku sudah renta dan tinggal mengikuti detak jam esayangan
akan ada yang sudi menyampaikan agar dia pulang untuk mau mencumbui jasad ini lagi
di sebuah ruang dimana malam menggantung tanpa bulan dan bintang sebagai hiasan abadinya
maaf, kalau aku belum menjadi
disebuah ruang, juni 2006
iip pasoloran
BUAT WIJI THUKUL
maaf tak kubeli tiap buku kumpulan celotehmu
hanya kukopi beberapa sajakmu bahkan kadang kurobek selembar di toko buku
karena kuingin kau hidup di nuraniku
mengajarkan aku arti hidup
mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan
dan arti sebuah pembangkangan
maaf, tak mampu kubeli semua tantangmu
karena di negeri ini harga buku melambung tinggi
padahal aku juga ingin menjadi peluru sepertimu
menembus sebuah tembok angkuh negeri ini
dan teriak “lawan”
Makassar, nopember 2006
iip pasoloran
UNTUK IKA
mungkin wajar ketika kita harus kembali ke masa lalu
biar semua bisa biasa-biasa saja
jangan mengira semua adalah wujud adanya
karena ternyata masih ada yang belum tampak olehmu
kau masih buta akan asa yang sudah menjadi pilihan
jalan setapak di samping masih butuh diperbaiki
biar semua bisa jalan dengan lenggaklenggok sendiri
sudah ada yang siap pada tahuntahun lalu
cuma baru sekarang baunya tercium zaman
batok kepalaku mau pecah
sudah….biarkan saja
lanjutkan apa yang mesti dilanjutkan
toh semua ada akhirnya
maka bersiaplah
dendangkan saja ninabobo saat datang
biar semua bisa tahu kalau ada cahaya di sudut mega
dan semua tampak biasa-biasa saja
pun masih ada masa di depan
pasti matahari menyapa.
salamku padanya…
Makassar, januari 2007
iip pasoloran
CATATAN BURAM SEBUAH NEGERI
(Hiduplah Indonesia raya)
Sampai saat ini belum kupahami juga kau sebagai sesuatu yang hidup
Sampai detik ini belum kurasakan kau sesuatu yang raya
Masih ada banyak yang perlu ditanyakan
Agar aku tahu kau ada
(Pancasila dasar Negara, rakyat adil, makmur sentosa)
Apanya yang jadi dasar?
Yang mana yang rakyat?
Dimana itu adil?
Siapa yang makmur?
Kapan sentosa?
(Maju tak gentar, membela yang benar)
Itu hanya menjadi slogan bagi mereka yang katanya pahlawan
Hanya untuk memberaki telinga anakanaknya
Karena sekarang tidak berlaku lagi
Maju tak gentar, membela yang bayar
(Tanah airku indonesia, negeri elok amat kucinta)
Masih sebuah tanda tanya
Apakah masih perlu aku mencintai dia
Sementara saban hari terdengar kesewenang-wenangan
Kota dan desa menjelma menjadi monster
(Bagimu negeri, jiwa raga kami)
Aku selalu saja dihantui kewajiban
Ibu,
apa patriotisme selalu kau minta supaya negeri ini bisa merdeka?
Apa jiwa raga ini harus membayar semua ketidakadilan di negeri ini?
Ibu,
anakku adalah anakmu juga
darahmu
Apimu
Jiwamu
Harapmu
Makassar, nopember 2006
iip pasoloran
NAIF
Sempat kutemukan dia di garis malam
Dengan hiasan senyum tipis indah
Getir menyambut rasa hingga cukup menyentuh
Di sisi ego dia menari
Pun dia hilang pada etalase bahagia
Sesaat muncul tapi tak berapa lama
Mungkin karena aku selalu lupa akannya
Di tiap pagi yang menghantar nafasku
Ah,
seandainya saja aku dekat
Maka akan kurangkul, kucumbui
Agar tak lagi aku bisa pergi jauh darinya sampai mata tak lagi menari pada esok
AKU MASIH ANAK HILANG
Makassar, juli 2007
iip pasoloran
SALAM BUAT WARNA-WARNA
I
Selamat malam negeri kecilku
pada sisi langit bulanmu tampak tak malu-malu lagi
pun bintangmu pada sinarnya
aku masih ragu memberi terang
II
Selamat malam burung garuda
paruhmu sudah retak sejak silam
dan tampaknya hanya ban bakas yang bisa menambal supaya kau kelihatan perkasa lagi
III
Selamat malam tunas-tunas baru
sampaikan cita-citamu untuk kami kala tumbuh
biar kami siap menanggung emas atau tai yang keluar dari pantatmu
benalu atau jati masih sebuah pilihan
IV
Selamat malam isme yang tercinta
adamu membuat batok kepala silau
kaupun hadir tak membuat terang
tapi kau masih saja menjadi gincu sebagian kami
V
Selamat malam para pemikir
mungkin ketika kau membaca dan menulis kantuk menggantung di kedua matamu
eh,
jangan lupa minum obat sebelum tidur
bisa jadi itu buat kau lebih tenang
VI
Selamat pagi bagi yang tak racau
setapak padamu adalah terangnya ruang-ruang gelapku
mari,
kuajak kau bersulang dalam spiritual hakiki
sekaligus undangan khusus saat aku sadar atau tak sadar
seperti senggama matahari dan pagi hari ini
Makassar, mei 2006
iip pasoloran
TV 21” MILIK BAPAKKU
Masih seperti kemarin,
Kuhidupkan TV 21” milik bapakku dan menonton suguhan berita stasiun TV teraktual.
Pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, pe, pe dan pe seperti garam untuk pauk buat makan ntar malam.
Ingin meledak tawaku saat nonton berita tentang pemerkosaan yang dilakukan anak di bawah umur terhadap seorang bocah.
Bukan karena moralku yang entah baik atau bobrok, tapi karena kontolku dibuat berdiri juga.
Seperti kemarin-kemarin,
Masih kuhidupkan TV 21” milik bapakku dan menonton berita pe, pe, dan pe yang masih hangat-hangat seperti bubur ayam buat sarapan pagi para pejoging di pantai Losari.
Tiba-tiba ada berita tentang bom yang meledak di kotaku. Tak ada korban jiwa hanya beberapa yang terluka ringan.
Yah mungkin ringan untuk tubuhnya, tapi berat untuk jiwanya.
Masih seperti kemarin-kemarin,
Aku masih orang Indonesia.
Makassar, april 2005
iip pasoloran
ruang satu
ruang dua
sebuah ruang perkenalan awal sebelum persenggamaan jiwa dan persepsi menjadi sebuah sketsa hidup yang menggemaskan
ruang tiga
ajari aku tentang cara meraba langkahmu sambil membingkai jejak sebagai titipan untuk masa depan
ruang empat
kenalkan sosokmu di altar langit hingga biasnya menerangi bumiku
ruang lima
tentang cintaku padamu yang kemarin ku tambatkan di ranting-ranting pepohon.
Today, there have been 4 visitors (8 hits) on this page!
Terkadang kita harus mengakhiri sesuatu di tempat dimana kita memulainya. Karena sepertinya sebuah eksistensi kemanusiaan harus dipertanyakan kembali, apakah betul kita ada dan bergerak ditiap siang dan malam.
Ruang-ruang ini semakin sempit saja, karena sebanyak apapun kita membuat opini tentang ruang, maka secara tidak sadar kita sudah berubah menjadi angkuh dan membatasi ruang yang kita pahami. Lalu apalagi yang mesti dipertahankan, jika pada akhirnya kita sendiri yang menciptakan batas ruang dan waktu itu dan kemudian menjelma menjadi......
This website was created for free with Own-Free-Website.com. Would you also like to have your own website?